Generasi Stroberi, apel, mangga, pisang atau …..?

122


Suka dengan stroberi?
Ya, buah ini tampilannya begitu cantik dan sering mewakili keremajaan, keceriaan, kecerahan, kesegaran dan keindahan lainnya. Tapi disini kita tidak sedang membicarakannya sebagai buah.
Kita akan bicarakan nama yang disematkan untuk sebuah generasi, Generasi Stroberi.

This image has an empty alt attribute; its file name is qAWJ7OQ6P7ijKoWBLX4ftDsRzh31Nq83wjpXbY2g.jpeg
Stroberi.*/DOK. PR /

Dilansir dari beberapa artikel online, generasi in imerujuk pada sebagian kalangan generasi saat ini, kenapa sebagian, karena mungkin ada sebagian lainnya yang cukup berasalan untuk tidak masuk ke dalam kategori ini.

Seperti kita ketahui, millenium ini ditandai dengan begitu pesatnya perkembangan secara global yang tentu sangat terkait dengan perkembangan teknologi, terutama gajet yang menjadi sarana utama. Dimana pada akhirnya menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang beragam rupa, diantaranya yng paling kentara adalah kemudahan dalam segala aspek kehidupan, dari hal remeh temeh sampai hal rumit, dari urusan bumbu dapur hingga urusan kantor.

Namun konsekuensi ini juga berdampak pada kondisi lainnya, mungkin dampak psikologis terhadap para penggunanya, para generasi yang bergelimang kemudahan karena kondisi yang sedemikian sehingga seolah tidak bisa lain kecuali melakukan segala sesuatu dengan kemudahan yang diperoleh lewat kemajuan gajet. Tentu dampak selalu bersisi dua, yaitu positif dan negatif.
Sisi positif dari segala kemudahan cenderung memicu dan memacu intelektual seseorang meningkat karena kemudahan akses informasi.  Di sisi lainnya, negatif, kemudahan juga cenderung membuat hal lain menjadi melemah, contoh sederhana kemudahan menjangkau sesuatu menyebabkan seseorang malas bergerak yang akhirnya kesehatan terganggu karena kurang gerak.

Nah, Generasi Stroberi dilekatkan pada generasi ini yang dengan segala kemudahannya menyebabkannya menjadi generasi yang cerdas namun di sisi lain rapuh karena berbagai hal.

Dalam suatu artikel di portaljember.pikiran-rakyat.com disebutkan bahwa Menurut Yeti Nurmayati, seorang penulis buku anak nasional Munculnya generasi seperti ini karena disebabkan oleh sejumlah faktor. 

Pertama, anak tidak mengenal kata ‘berjuang’. Sejak lahir semuanya dilayani, difasilitasi dan dimudahkan.

Kedua, orang tua tidak membiarkan anak menerima konsekuensi. Saat anak kesulitan atau menerima hukuman, di sekolah misalnya, orang tua akan ikut campur dan membelanya habis-habisan.

Ketiga, anak mendapatkan keinginannya dengan mudah. Tanpa ada perjuangan yang berarti. Ini terjadi umumnya karena orang tua sekarang hobi cari uang. Apapun yang diminta anak akan diberi asal mereka anteng dan tidak mengganggu orang tuanya.

Keempat, pengasuhan anak banyak dialihkan pada orang lain. Ada baby sitter atau pengasuh saat bayi, lalu ada sekolah saat mulai besar. Banyak orang tu berani bayar mahal agar anaknya mendapat fasilitas yang wah.

Kelima, anak digempur oleh gadget, salah satunya game. Kehadiran teknologi menjadi buah simalakama. Di satu sisi memudahkan, di sisi lain bisa membuat anak kecanduang dan terpengaruh kepribadiannya.

Menurut Yeti juga, kepribadian generasi stroberi akan terlihat saat anak menginjak remaja dan dewasa. Anak cepat putus asa, cepat marah bahkan hanya dengan mendapat sedikit ganjalan. Hal ini tentunya tidak terjadi begitu saja. Namun merupakan kepribadian yang terbentuk sejak masih kecil atau golden age.

Seperti disebutkan di atas sebelumnya, tentu sebagian dari generasi ini tidak masuk kategori stroberi, karena tentu ada saja mereka yang entah karena keadaan atau kehendak kuatnya sendiri tidak berperilaku seperti digambarkan tadi.
Tentu tidak pelak kekuatan bimbingan moral yang sering terintegrasi ke dalam ajaran agama salah satu yang menjadikan sebagian lainnya tetap berada di luar kategori stroberi ini, mungkin kategori apel, mangga, jambu atau lainnya. Wallahua’lam